
Rasanya baru kemarin kami ngobrol santai tentang masa depan setelah kelak meraih gelar sarjana terapan di Politeknik Tempo. Kini, aku masih sulit percaya bahwa sahabat sekaligus teman kita semua, Siska Pitriani, telah berpulang pada Sabtu, 23 Agustus 2025, di Jakarta pada usia 22 tahun.
Siska adalah sosok yang ceria dan selalu mencairkan suasana. Sebagai mahasiswi Program Studi Produksi Media, namanya identik dengan dunia dokumentasi dan konten. Siapa pun yang menyebut “anak dokumentasi atau si paling ngonten” pasti teringat padanya dengan jargon khasnya, “Mana maen!”. Karya-karya Siska masih bisa kita lihat di berbagai konten media sosial Politeknik Tempo, dan dalam film tugas maupun kompetisi yang pernah ia garap bersama timnya.
Sebagai mahasiswi rantau asal Pangandaran, Jawa Barat, Siska memanfaatkan setiap kesempatan untuk berkembang. Ia aktif di berbagai kegiatan organisasi dan UKM, bahkan dipercaya memimpin Podcast Speaktrum, nama podcast yang ia buat sendiri. Di bawah kepemimpinannya, ia memberi ruang bagi teman mahasiswa untuk berpendapat dan berkembang.

Siska adalah pribadi yang bersemangat dan pantang menyerah. Ia selalu menawarkan diri membantu dalam kepanitiaan, bahkan ketika tidak memiliki peralatan memadai. Meski tak punya laptop, ia selalu mengumpulkan tugas tepat waktu, kadang lebih cepat dari tenggat dengan meminjam laptop teman atau menggunakan komputer kampus. Ia senang menantang dirinya untuk belajar hal baru, ketika merasa gugup berbicara di depan umum, ia justru mencoba menjadi moderator. Saat belum bisa menggunakan kamera, ia meminta diajari teman yang memiliki kamera. Dari keberanian itu, ia tumbuh menjadi seorang kreator kampus, dari mencari ide, menulis naskah, mengambil gambar, menjadi talent, hingga editing.
Aku Elin dari Banten, bersama Siska dari Pangandaran, dan Karlos dari Flores, sama-sama anak rantau yang dulu menempuh pendidikan di SMK Bakti Karya Parigi. Sekolah ini adalah sekolah beasiswa bagi siswa dari berbagai daerah di Indonesia. Kami melanjutkan mimpi yang sama di Politeknik Tempo Jakarta, tanpa sanak saudara di kota ini, hanya berpegang pada semangat dan kebersamaan.

Di antara kami bertiga, Siska selalu jadi penggerak. Ia yang paling sering mengajak belajar bareng, main bareng, atau datang ke berbagai event di Jakarta. Aku masih bisa membayangkan wajahnya yang ceria setiap kali mengajak kami berfoto atau merekam video. Aku juga masih ingat betapa lahapnya ia makan. Apapun menunya selalu ia nikmati. Di awal kuliah, kami bahkan sering berbagi satu porsi bertiga.
Sebelum sakit, Siska sempat meneleponku. Suaranya terdengar lembut di seberang sana ketika ia berkata, “Kalau ada apa-apa, bilang ya, jaga kesehatan juga. Diperantauan ini kita harus baik-baik aja sampai capai mimpi masing-masing.” Aku terdiam sejenak, lalu menjawab sambil tersenyum, “Pokoknya nanti wisuda kita foto bertiga, ya!”
Kini, janji itu hanya bisa kuingat dalam hati. Padahal Siska sudah begitu bersemangat menyiapkan desain kebayanya sendiri, sepatu pilihannya, dan riasan yang ia idamkan untuk hari wisuda.
Kepergian Siska tak hanya meninggalkan duka mendalam, tapi juga jejak kenangan dan karya yang tak akan hilang. Terima kasih Siska, sudah menjadi bagian dari perjalanan kami. Beristirahatlah dengan tenang di sana. Kamu akan selalu hidup dalam kenangan kami, melalui semangat dan karya yang engkau tinggalkan.
ELIN ARI HANDAYANI
