KORSTE menghadiri kegiatan Ramah Tamah dan Workshop PERS kampus yang diselenggarakan oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Menara Kompas, Lantai 9, Ruang Kolaborasi. Senin, 11 Mei 2026.
JAKARTA — Mahasiswa Politeknik Tempo yang tergabung dalam Komunitas Pers Politeknik Tempo (KORSTE) memperoleh kesempatan istimewa, yakni mendapatkan pembelajaran langsung dari Prof. Masato Kajimoto, dosen School of Future Media Hong Kong University. Founder Asian Network for News and Information Educators (ANNIE) ini banyak membagikan jurus membongkar aneka jenis hoaks di era digital, dalam sesi kuliah umum di Universitas Multimedia Nusantara, Menara Kompas, Lantai 9, Senin 11 Mei 2025.
Kuliah bertema “What do we need to know about Generative AI” ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Islam Bandung (UNISBA), selain Politeknik Tempo sendiri. Kegiatan ini menyoroti perubahan besar dalam lanskap informasi akibat perkembangan generative AI yang semakin pesat.

Dalam paparannya, Masato menegaskan bahwa generative AI telah membawa perubahan signifikan dalam produksi konten digital, termasuk dalam dunia jurnalistik. Konten berita kini tidak hanya diproduksi oleh manusia, tetapi juga oleh sistem AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, hingga video dengan tingkat kemiripan tinggi terhadap realitas.
Kondisi tersebut, menurut Masato, membuka peluang besar bagi penyebaran hoaks dan disinformasi. Ia mengatakan, mahasiswa, termasuk mahasiswa Politeknik Tempo sebagai calon jurnalis dituntut untuk memiliki kemampuan verifikasi yang lebih kuat dan adaptif terhadap teknologi baru.
Ia mencontohkan kasus di Taiwan, ketika muncul berbagai pemberitaan provokatif setelah kekalahan tim baseball Taiwan dari Venezuela. Dalam situasi tersebut, sejumlah pihak memanfaatkan AI untuk membuat narasi yang menyerang tokoh tertentu, termasuk Wakil Presiden Venezuela. Informasi yang beredar terlihat meyakinkan, namun ternyata tidak memiliki dasar fakta yang jelas.
Melalui contoh tersebut, Kajimoto menekankan pentingnya proses verifikasi yang tidak hanya bergantung pada asumsi atau keyakinan pribadi. “If you see something and you are 99% sure it is AI, you still need to prove it,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan AI sebagai alat bantu verifikasi. Konten yang diragukan dapat diuji ulang menggunakan sistem AI untuk mengidentifikasi pola generatif, inkonsistensi visual, atau struktur bahasa yang khas dari konten buatan mesin.
Oleh: Muhammad Ezra Gazza Aziz


