
Jakarta — Politeknik Tempo menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Perempuan di Panggung Jurnalistik” pada Selasa, 28 April 2026, di Perpustakaan Politeknik Tempo. Kegiatan ini digelar dalam rangka Lustrum I atau Dies Natalis ke-5 Politeknik Tempo, sekaligus memperingati Hari Kartini.
Seminar menghadirkan tiga narasumber perempuan, yakni Redaktur Hukum dan Kriminal Tempo Linda Trianita, dosen LSPR Past Novel Larasaty, dan Direktur Eksekutif Project Multatuli Evi Mariani. Diskusi dipandu oleh Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kerja Sama Politeknik Tempo, Rachma Tri Widuri, yang juga berlatar belakang jurnalis.
Acara dibuka oleh master of ceremony, Jeanet Chaterine Prysilya Duka, mahasiswa Desain Media semester 4 dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Politeknik Tempo, dilanjutkan sambutan Direktur Politeknik Tempo, Shalfi Andri. Selanjutnya, CEO Tempo Digital Wahyu Dhyatmika menyampaikan pidato pembuka, yang menyoroti minimnya representasi perempuan di ruang redaksi Indonesia. Ia mengakui, bahkan termasuk di Tempo sendiri, jurnalis laki-laki masih lebih dominan.
Wahyu juga mengungkap bahwa tantangan jurnalis perempuan memang tidak kecil, bahkan makin meningkat di era digital. “Ada tren peningkatan serangan online yang terutama terjadi kepada jurnalis perempuan,” ujar dia.
Diskusi dibuka oleh moderator seminar, Rachma Tri Widuri yang memantik diskusi dengan mengutip semangat Kartini. “Perempuan tidak hanya berhak untuk berbicara, tapi juga untuk didengar. Apakah semangat ini sudah ada di jurnalisme masa kini?” ia mempertanyakan.
Narasumber pertama, Linda Trianita, memaparkan “Risiko Jurnalis Perempuan di Era Digital”. Menurut dia, tren jurnalis perempuan terus meningkat, ruang mereka di redaksi masih minim dan kerap dianggap remeh berdasarkan gender, bukan hasil kerja. Linda juga mengungkapkan berbagai risiko yang dihadapi, mulai dari tekanan, intimidasi, kriminalisasi, gugatan hukum, hingga serangan siber dan penggunaan buzzer oleh pihak tertentu.
Risiko lebih spesifik terjadi terhadap jurnalis perempuan yang mencakup pelecehan dan objektifikasi saat peliputan. Linda menegaskan pentingnya perlindungan institusional dari redaksi, termasuk akses konseling psikologis. Ia juga menyarankan agar para jurnalis berhati-hati di media sosial sebagai bentuk perlindungan diri dan orang-orang terdekat.
Past Novel Larasaty, narasumber yang merupakan dosen LSPR sekaligus mantan jurnalis, membagikan pengalamannya “Dari Balik Layar ke Ruang Kelas”. Ia memulai karier di dunia hiburan, di Global TV (saat ini GTV). Alumnus Leed University, UK ini menekankan bahwa realita di lapangan kerap jauh dari perencanaan praproduksi. Oleh karena itu, Past mendorong para jurnalis untuk mengembangkan critical thinking, sensitivitas, dan kesadaran dampak sebagai bagian dari apa yang ia sebut “kurikulum kehidupan”. “Ini yang kerap saya bawa ke dalam ruang kelas,” tutur dia.
Narasumber ketiga, Evi Mariani, Direktur Eksekutif Project Multatuli, memberi perspektif yang berbeda dari dua narasumber sebelumnya. Menurut Evi, ketidakseimbangan jumlah perempuan di ruang redaksi membuat perspektif dunia dalam pemberitaan menjadi sempit.
“Jika perempuan juga menjadi narasumber dalam pemberitaan, nilai dari berita itu sendiri akan lebih kaya,” tegasnya. Evi juga menekankan bahwa jurnalisme tidak dapat digantikan oleh kreator konten karena memiliki sistem pendukung berupa lapisan editor, mentor, dan dewan pers yang menjaga akuntabilitas hingga keselamatan mereka.
Evi memberi contoh, saat Project Multatuli memberikan pelatihan kepada sejumlah fotografer perempuan, hasilnya di luar dugaan. “Saya kira apa yang ditangkap para fotografer perempuan ini tidak akan terpikir oleh fotografer laki-laki. Misalnya nih, ada yang memotret post partum depression. Mana ada laki-laki yang mikir sampai ke sana?” katanya dengan menggebu-gebu.
Seminar diakhiri dengan penyerahan plakat kepada para narasumber oleh Ketua Yayasan Rumah Edukasi Tempo, Meiky Sofyansah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Politeknik Tempo untuk mendorong kesadaran mahasiswa terhadap tantangan dan peluang nyata di industri media nasional.
Oleh Abdul Malik Hanif Ibrahim
