Pertama dalam Sejarah! UKM Netra Politeknik Tempo Raih Juara 3 di JYFF 2026 Lewat Film “TRANS/AKSI”

Kiri ke kanan: Fajar Adyanata Putra Mirza sebagai penulis naskah, Zikrul Ziko sebagai produser, dan Thoriq Aliefi Nugroho sebagai sutradara dalam acara puncak Jakarta Youth Film Festival (JYFF) di Istora Senayan, Jakarta. Minggu, 5 Juli 2026. (Foto: Dok. KORSTE/Darryl Mujiburahman)

JAKARTA – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Netra dari Politeknik Tempo meraih prestasi gemilang dalam ajang Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026. Film pendek mereka yang berjudul TRANS/AKSI berhasil memperoleh penghargaan Juara 3 untuk kategori Lensa Kompetisi Mahasiswa. Penghargaan tersebut diumumkan secara resmi pada Minggu, 5 Juli 2026, dalam acara puncak yang digelar di Istora Senayan, Jakarta. Film berdurasi 15 menit ini berhasil mencuri perhatian dewan juri di tengah persaingan ketat dengan berbagai kampus besar, termasuk Universitas Indonesia (UI).

Mengangkat Sisi Gelap Jakarta dan Edukasi Rupiah

Sinopsis film TRANS/AKSI berpusat pada kondisi sosial dan kriminalitas di ibu kota. Fajar Adyanata Putra Mirza, selaku penulis naskah, mengungkapkan bahwa ide cerita ini lahir dari pengamatannya terhadap peredaran uang palsu di Jakarta. “Ide sebenarnya dari kehidupan sehari-hari aja, di mana, di sisi lain Jakarta yang lebih dalam dan gelap, masih banyak terjadi kriminalitas seperti peredaran uang palsu,” ujar Adya.

Karakter utama film ini bernama Dirman, diperankan oleh Shillam Salomo Sianipar, mahasiswa Produksi Media Angkatan 2024. Ia diceritakan sebagai seorang pemuda perantau yang terjebak dalam jaringan pengedar uang palsu demi bisa bertahan hidup di Jakarta. Adya menambahkan bahwa melalui film ini, timnya ingin menyelaraskan pesan edukasi dari Bank Indonesia (BI), khususnya mengenai pentingnya memahami Rupiah melalui slogan 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang).

Di sisi lain, Thoriq Aliefi Nugroho selaku sutradara menjelaskan bahwa selain menyoroti bahaya uang palsu, film ini juga membawa visi modern dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya beralih ke transaksi digital seperti QRIS sebagai alternatif pembayaran yang lebih aman.

Berawal dari “Kegabutan” dan Wadah Belajar

Di balik kesuksesan film TRANS/AKSI, terdapat kisah unik dari proses produksinya. Sang produser, Zikrul Ziko, mengakui bahwa keikutsertaan mereka dalam ajang JYFF 2026 ini awalnya dipicu oleh selesainya seluruh program kerja (proker) tahunan mereka. “Awalnya karena proker hampir semuanya sudah dikerjakan. Bahasanya, mungkin pada saat itu agak bingung dan gabut mau ngapain lagi di Netra. Akhirnya kami putuskan ikut lomba,” cerita Ziko sembari tertawa.

Ziko menambahkan bahwa mayoritas kru UKM Netra sejujurnya belum memiliki pengalaman besar di dunia perfilman. Namun, komitmen untuk menjadikan UKM sebagai wadah belajar dan keinginan agar karya mereka bisa dinikmati oleh masyarakat luas menjadi pemantik utama eksekusi proyek ini. Proses penulisan naskahnya sendiri memakan waktu sekitar satu minggu setelah melalui pematangan premis selama tiga hari.

Kunci Sukses: Syuting Sambil “Nongkrong”

Menghadapi keterbatasan dana dan waktu, tim produksi TRANS/AKSI memiliki strategi tersendiri untuk menjaga motivasi kru. Ziko menerapkan pendekatan yang santai dan menyenangkan agar para mahasiswa tidak tertekan.

Proses syuting film TRANS/AKSI sengaja dilakukan pada malam Minggu di area kampus. “Ya kita kayak nongkrong aja gitu, tapi versi nongkrong di kampus. Kami menjaganya dengan fun, tidak ada marah-marah agar tidak ada bad mood,” kata Ziko.

Tantangan di lapangan sebagai sutradara baru juga dirasakan oleh Thoriq. Namun, atmosfer kerja tim yang solid dan suportif membantunya mengatasi berbagai kendala teknis penyutradaraan selama proses produksi film pertamanya tersebut.

Delegasi Netra bersama pendukung dari Politeknik Tempo saat menghadiri acara puncak Jakarta Youth Film Festival (JYFF) di Istora Senayan, Minggu, 5 Juli 2026. (Foto: Istimewa)

Pelajaran Berharga dan Langkah ke Depan

Prestasi kali ini menjadi motivasi besar bagi anggota UKM Netra. Ziko berharap pencapaian ini bisa menjadi bukti bahwa keterbatasan pengalaman bukanlah penghalang untuk bersaing di tingkat tinggi. “Pelajaran paling berharga adalah kita jangan sok tahu dan jangan pesimis duluan. Pokoknya coba aja semua kesempatan yang ada di depan, jangan ditolak,” tegas Ziko.

Pasca-kejuaraan, sang sutradara, Thoriq, menyatakan ketertarikannya untuk terus mendalami dunia perfilman dan mengeksplorasi tema serta genre baru yang lebih bervariasi di masa depan. Begitu pula dengan Adya, yang mengisyaratkan telah menyiapkan beberapa draf naskah film panjang yang siap dikembangkan untuk proyek-proyek kreatif selanjutnya.

Darryl Mujiburahman

share it
Facebook
Twitter
LinkedIn
Reddit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *