Film Dokumenter “Wiraga Jiwa: Gincu, Gerak, Gugat” Soroti Pelecehan Seksual terhadap Penari Tradisional

Produser Aisha Jingga Kinaya (kedua dari kanan) dan Asisten Sutradara Tobias Nathaniel Dante (kanan) memaparkan proses produksi film dokumenter Wiraga Jiwa: Gincu, Gerak, Gugat dalam konferensi pers di Ruang Opini, Lantai 7, Politeknik Tempo, Kamis, 2 Juli 2026. Film tersebut mengangkat isu pelecehan seksual yang dialami penari tradisional. (Dok. KORSTE/Darryl Mujiburahman)

POLITEKNIK TEMPO — Tim Produksi Wali Songo memperkenalkan film dokumenter Wiraga Jiwa: Gincu, Gerak, Gugat dalam konferensi pers di Ruang Opini, Lantai 7, Politeknik Tempo, Kamis, 2 Juli 2026. Film tersebut mengangkat isu pelecehan seksual yang masih kerap dialami penari tradisional serta mengajak masyarakat untuk memandang penari sebagai pelaku seni yang memiliki hak atas rasa aman, bukan sekadar objek hiburan.

Produser film, Aisha Jingga Kinaya, menjelaskan bahwa judul Gincu, Gerak, Gugat memiliki makna yang merepresentasikan identitas penari sekaligus kritik terhadap perlakuan yang mereka terima. Menurutnya, “Gincu” melambangkan rias wajah penari, “Gerak” merepresentasikan ekspresi seni tari, sedangkan “Gugat” menjadi simbol tuntutan atas pemenuhan hak-hak penari yang selama ini kerap diabaikan. “Saat ini kan penari masih dianggap sebagai hiburan semata, padahal penari itu menggaungkan banyak hal tentang tradisional, tentang adat-adat kita terdahulu, tentang banyak hal kesenian budaya yang sampai saat ini harus dilestarikan,” ujarnya.

Asisten Sutradara, Tobias Nathaniel menambahkan bahwa rendahnya apresiasi terhadap budaya lokal turut menjadi latar belakang produksi film tersebut. Ia menilai berbagai bentuk pelecehan terhadap penari masih sering dinormalisasi karena konstruksi sosial yang telah berlangsung lama. “Sekarang itu memang, sorry to say, di Indonesia itu banyak lebih mengapresiasi budaya dari luar negeri. Dan makanya sampai sekarang bisa dianggap jarang ada orang yang mau melestarikan budaya dari Indonesia sendiri,” katanya.

Aisha mengungkapkan bahwa ide awal film hanya berfokus pada kebudayaan dan seni tari. Namun, setelah melakukan riset, tim menemukan bahwa pembahasan mengenai hak-hak penari, khususnya terkait pelecehan seksual, masih sangat minim sehingga dipilih sebagai fokus utama dokumenter. Salah satu kasus yang menjadi pemicu riset tim adalah dugaan pelecehan terhadap penari Jathil Ponorogo. Menurut Aisha, kasus tersebut mendorong tim untuk mengangkat persoalan yang selama ini jarang dibahas ke ruang publik.

Dalam proses produksi, tim menghadapi sejumlah kendala, mulai dari terbatasnya data penelitian, hingga kesulitan memperoleh informasi yang valid. Tobias menyebut sebagian sumber yang ditemukan pada tahap riset ternyata mengandung narasi yang tidak akurat sehingga proses verifikasi harus dilakukan lebih mendalam.

Pada sesi tanya jawab, sejumlah jurnalis menyoroti hubungan identitas penari dengan tubuhnya, normalisasi pelecehan seksual, hingga konstruksi gender dalam masyarakat. Menanggapi hal itu, Tobias menegaskan bahwa tubuh merupakan bagian dari identitas seseorang sehingga segala bentuk pelecehan adalah perendahan terhadap martabat individu.

Mengakhiri diskusi, Aisha menilai budaya patriarki dan stereotip gender masih menjadi faktor utama yang menyebabkan pelecehan terhadap penari dianggap sebagai risiko pekerjaan. Melalui Wiraga Jiwa: Gincu, Gerak, Gugat, tim produksi berharap film tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelecehan seksual yang dialami penari tradisional sekaligus mendorong penghormatan terhadap hak-hak perempuan dan perlindungan bagi pekerja seni. “Harapannya sih semoga film dokumenter kali ini bisa mengubah perspektif masyarakat tentang saweran dan tentang penari itu hanya sebagai hiburan. Tolong Lindungi ruang aman untuk perempuan ya, teman-teman,” ujar Aisha.

Darryl Mujiburahman

share it
Facebook
Twitter
LinkedIn
Reddit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *