
JAKARTA – Di antara dinding tua Museum Kebangkitan Nasional (STOVIA), Sabtu, 11 Juli 2026, masa depan Indonesia dibicarakan dengan cara yang tidak biasa. Tidak melalui pidato panjang atau paparan angka pembangunan, melainkan lewat film dokumenter, lukisan botani, wayang anak, paduan suara, hingga selembar kain putih yang dipenuhi harapan sekaligus kritik.
Sejak pagi, puluhan anak muda berkumpul dalam acara Bicara 2045, sebuah ruang kolaborasi yang mengajak generasi muda membayangkan Indonesia saat genap berusia 100 tahun.
“Masa depan bukan sesuatu yang kita tunggu, tetapi sesuatu yang kita ciptakan bersama,” ujar Alifah Olivia, perwakilan mahasiswa Politeknik Tempo, saat membuka acara.
Sebelumnya, perwakilan CommLab, Kurie Suditomo, mengajak peserta menyambungkan gagasan demi mewujudkan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, generasi terdahulu telah mewariskan cita-cita besar bagi anak bangsa, sehingga kini giliran anak muda melanjutkan perjuangan tersebut.
Usai pembukaan, peserta diajak berkeliling Museum STOVIA dalam tiga kelompok. Mereka mendengar kisah tentang meriam peninggalan Portugis, perjalanan sekolah kedokteran pertama bagi pribumi, hingga politik etis Belanda yang melahirkan STOVIA. Di ruang-ruang museum itu, sejarah kolonial bukan sekadar dikenang, tetapi dijadikan pintu masuk untuk membaca persoalan Indonesia hari ini.
Perjalanan itu berlanjut melalui pemutaran film dokumenter Indonesia Calling karya Joris Ivens. Film produksi 1946 tersebut mengisahkan aksi sekitar 14 ribu buruh pelabuhan Australia yang memboikot kapal Belanda sebagai bentuk solidaritas terhadap kemerdekaan Indonesia.

Cerita tentang perjuangan lintas negara itu kemudian diterjemahkan peserta dalam Workshop Decolonialism bersama Civic Toolkit. Mereka menggambar siluet tubuh di atas karton dan mengisinya dengan berbagai refleksi.
Di bagian mata, peserta menuliskan apa yang mereka lihat dari film. Di telinga, mereka menuliskan suara-suara yang ingin terus diperjuangkan. Pada dada, mereka menuangkan perasaan. Sementara pada bagian perut, mereka menuliskan kegelisahan yang muncul setelah menyaksikan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Refleksi itu kemudian berpindah ke selembar kain putih sepanjang 2,5 meter. Satu per satu peserta menuliskan harapan mereka untuk Indonesia pada 2045.
Namun, yang muncul bukan hanya optimisme.
Tulisan-tulisan di atas kain itu juga dipenuhi kritik mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang belum terselesaikan, maraknya korupsi, kekerasan seksual, hingga berbagai tragedi masa lalu yang masih menunggu keadilan.

Bagi para peserta, Indonesia Emas bukan sekadar persoalan pertumbuhan ekonomi. Masa depan juga harus menghadirkan negara yang mampu memenuhi hak-hak warganya.
Semangat itu kembali terdengar saat Paduan Suara Gitaku tampil pada sore hari. Lagu demi lagu yang dibawakan bukan sekadar harmoni vokal, melainkan rangkaian kritik terhadap berbagai persoalan bangsa.
Lirik-lirik mereka menyinggung janji pemerintah yang belum ditepati, suara rakyat yang kerap diabaikan, hingga penindasan yang masih terjadi. Pada lagu ketiga, kritik diarahkan kepada kebijakan pembukaan izin tambang baru, perluasan perkebunan sawit, serta penebangan hutan yang dinilai mengancam keberlanjutan lingkungan.

Di sudut lain, Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) menawarkan cara berbeda memandang Indonesia. Melalui lukisan botani, para seniman memperlihatkan kekayaan flora Nusantara sekaligus mengingatkan bahwa tumbuhan bukan hanya objek gambar, melainkan sumber pengetahuan dan inovasi yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Indonesia memiliki banyak flora yang sangat indah. Saya berharap kekayaan ini benar-benar dimanfaatkan untuk melahirkan berbagai inovasi,” ujar salah seorang narasumber sembari memperlihatkan ilustrasi kantung semar dan bunga ganda suli.
Cerita tentang lingkungan juga datang dari Pullot Collective asal Banda Aceh. Lewat pertunjukan yang menyerupai percakapan di warung kopi, mereka berkisah mengenai Pulau Breuh yang hidup berdampingan dengan sampah kiriman dari luar pulau. Harapan mereka sederhana: pada 2045, masyarakat tak lagi dikenal karena tumpukan sampah, melainkan keberhasilannya mengelola lingkungan.
Pesan serupa hadir melalui pertunjukan wayang Rumah Kita, Bumi Kita yang dibawakan Ruru Kids. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami anak-anak, pertunjukan itu mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga dari kerusakan hutan, sampah plastik, dan eksploitasi alam.
Menjelang penutupan, Elpro Art Dance mengajak seluruh penonton naik ke area pertunjukan untuk menari bersama. Anak-anak, mahasiswa, hingga orang dewasa larut dalam irama tari Nusantara.
Hari itu, Museum STOVIA tidak hanya menjadi ruang menyimpan sejarah. Bangunan yang dahulu melahirkan banyak tokoh pergerakan nasional kembali menjadi tempat lahirnya percakapan tentang masa depan.
Lewat seni, sejarah, dan berbagai kritik yang disampaikan sepanjang acara, Bicara 2045 seolah mengingatkan bahwa Indonesia Emas tidak akan lahir hanya karena pergantian tahun menuju satu abad kemerdekaan. Masa depan itu harus dibangun dengan keberanian mendengar suara rakyat, menjaga lingkungan, menegakkan keadilan, dan menepati janji kepada generasi yang akan mewarisinya.
Usman Abubakar Zaelany





