913 Kamis Menuntut Keadilan, Mahasiswa: Rezim Berganti, Impunitas Tetap Langgeng

JAKARTA – Aksi kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta, akan kembali di gelar yang ke – 913 kali pada Kamis (25/6/2026) sore, menghadirkan dosen Kriminologi Universitas Indonesia, Dra. Mamik Sri Supatmi, M.Si. untuk mengisi kuliah jalanan, bersama beberapa perwakilan mahasiswa UIN Jakarta dan IPB untuk mengisi refleksi pada aksi hari ini.

Dalam kuliah jalanan yang digelar di sela aksi tersebut, Dosen Kriminologi Universitas Indonesia, Dra. Mamik Sri Supatmi, M.Si., menjelaskan bahwa penyiksaan adalah salah satu pelanggaran HAM yang paling berat. Ia menyebut penyiksaan sebagai tindakan yang sengaja dilakukan untuk menyakiti seseorang, baik secara fisik maupun mental.

Mamik juga mengingatkan bahwa setiap orang di dunia berhak untuk bebas dari penyiksaan. Ia menegaskan bahwa semua negara wajib melindungi hak tersebut, tidak peduli apakah negara itu sudah menandatangani perjanjian internasional soal penyiksaan atau belum.

Sesi refleksi kemudian diisi oleh perwakilan mahasiswa. Zidan, mahasiswa UIN Jakarta, mengungkapkan bahwa dirinya dan peserta aksi tidak pernah merasa lelah untuk terus hadir setiap Kamis. Baginya, hadir di aksi ini adalah cara untuk terus melawan, terus mengingat, dan terus berjuang demi hak-hak yang selama ini dirampas.

Hal serupa disuarakan oleh Derry, mahasiswa IPB. Ia menyebut bahwa meski pemimpin dan rezim terus berganti, satu hal yang tidak pernah berubah di negeri ini adalah impunitas, yakni kondisi di mana pelaku pelanggaran HAM tidak pernah dihukum.

Aksi Kamisan sendiri adalah aksi damai yang rutin digelar setiap Kamis sore di depan Istana Presiden, Jakarta, sebagai bentuk desakan kepada pemerintah untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang hingga kini belum tuntas.

Aksi Kamisan pertama kali digelar pada 18 Januari 2007, digagas oleh tiga keluarga korban pelanggaran HAM berat, yakni Maria Catarina Sumarsih, Suciwati, dan Bedjo Untung. Hingga kini, aksi tersebut telah konsisten berlangsung setiap Kamis sore di seberang Istana Merdeka, Jakarta, sebagai pengingat bahwa keadilan bagi para korban belum juga terwujud.

Qori Kautsar

share it
Facebook
Twitter
LinkedIn
Reddit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *