Prof. Masato Kajimoto saat memaparkan materi tentang fact checking di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Menara Kompas, Lantai 9, Ruang Kolaborasi. Senin, 11 Mei 2026.
Dosen School of Future Media, University of Hong Kong, Prof Masato Kajimoto berkesempatan berbagi ilmu dengan mahasiswa Ilmu Komunikasi tiga kampus di Indonesia, Senin 11 Mei 2026 lalu di Menara Kompas, Jakarta. Salah satu fenomena dikenalkan Founder Asian Network for News and Information Educator (ANNIE) ini adalah fenomena “real is the new fake”. Yaitu, kondisi ketika konten yang asli dan benar justru tidak dipercaya karena banyaknya konten manipulatif yang beredar.
Prof. Masato mencontohkan figur publik seperti Benjamin Netanyahu yang sering menjadi objek manipulasi berbasis AI. Akibatnya, publik kesulitan membedakan mana informasi yang autentik dan mana yang telah dimodifikasi.

Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, Prof. Masato memaparkan dua teknologi yang saat ini dikembangkan untuk membantu verifikasi konten digital, yaitu C2PA dan SynthID. C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity) memungkinkan pelacakan asal-usul konten melalui metadata yang mencatat siapa pembuatnya, kapan dibuat, serta perubahan yang terjadi selama distribusi. Sementara itu, SynthID merupakan teknologi watermark tidak terlihat yang disematkan pada konten hasil generasi AI untuk menandai bahwa konten tersebut bukan sepenuhnya dibuat oleh manusia.
Meski memiliki potensi besar, Kajimoto menegaskan bahwa kedua teknologi tersebut belum diterapkan secara merata di seluruh platform digital. Hal ini membuat peran manusia tetap krusial dalam proses identifikasi dan verifikasi informasi.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk lebih selektif dalam memeriksa informasi yang beredar. Tidak semua konten perlu diverifikasi secara mendalam, terutama jika tidak memiliki dampak luas atau konsekuensi signifikan. “If the news has no real consequence, you might just waste your time verifying it,” kata pria asal Jepang ini.
Selain membahas disinformasi, Prof Masato turut menyinggung penggunaan AI dalam sektor kesehatan, seperti ChatGPT Health. Ia menjelaskan bahwa teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain tingkat akurasi diagnosis dalam kondisi tertentu, kemampuan mendeteksi gejala secara spesifik, layanan yang tersedia 24 jam, serta dukungan personalisasi bagi pengguna.
Namun, ia juga mengingatkan adanya risiko yang perlu diperhatikan, seperti potensi pelanggaran privasi dan keamanan data, kemungkinan terjadinya salah diagnosis, serta keterbatasan dalam validasi ilmiah. Selain itu, penggunaan AI yang berlebihan juga dapat memicu kecemasan kesehatan pada pengguna.
Prof Masato juga menyoroti sejumlah kelemahan AI lainnya, seperti kecenderungan sistem yang tidak memahami konteks secara menyeluruh (context-blind) dan sifat overly agreeable, di mana AI cenderung mengikuti asumsi pengguna tanpa memberikan koreksi yang memadai.
Dalam konteks profesional, ia menekankan bahwa AI tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan efisiensi kerja. Peran jurnalis tetap penting dalam memastikan akurasi, kredibilitas, dan etika dalam penyampaian informasi.
Kajimoto menutup pemaparannya dengan menegaskan pentingnya sikap kritis dalam memanfaatkan teknologi AI. “AI is very helpful, but there are so many things we have to check before we trust it,” ujar dia.
Melalui kuliah terbuka ini, mahasiswa Politeknik Tempo mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tantangan dan peluang di era AI. Para anggota pers kampus Komunitas Pers Politeknik Tempo (Korste) juga sekaligus belajar keterampilan dasar yang dapat diterapkan dalam praktik jurnalistik sehari-hari.




