Politeknik Tempo Gelar Kuliah Umum Bertajuk “Public Speaking for Future Professionals”

Dheayu Jihan memaparkan materi public speaking di hadapan mahasiswa Politeknik Tempo. Senin, 10 November 2025. (Dok. KORSTE/ Darryl Mujiburahman)

Jakarta, 14 November 2025 – Politeknik Tempo menggelar kuliah umum bertajuk “Public Speaking for Future Professionals” guna membekali mahasiswa dengan keterampilan berbicara di depan publik sebagai calon profesional media. Acara yang menghadirkan Dheayu Jihan, Produser TV Tempo berlangsung pada 10 November 2025 di Ruang Opini Lantai 7 Gedung Tempo dan diikuti oleh mahasiswa Produksi Media angkatan 2023 & 2025, serta Desain Media angkatan 2025.

Dalam kuliah umum ini, Dheayu Jihan membagikan pengalaman dan strateginya dalam menguasai public speaking yang efektif di dunia jurnalistik. Ia menekankan pentingnya rasa percaya diri, kemampuan menyusun pesan, serta memahami lawan bicara sebelum berbicara di depan publik. “Public speaking tidak hanya tentang pintar berbicara, tetapi juga mampu mengenali lawan bicara” ujarnya.

Menurut gadis asal Semarang tersebut, public speaker berperan sebagai penyambung lidah masyarakat yang mewakili pertanyaan dan aspirasi publik serta bertanggung jawab dalam menyampaikan gagasan yang jelas, bermakna, dan mudah dipahami publik. “Semakin baik kemampuan public speaking seseorang, semakin mudah publik mencerna informasi, dan semakin tinggi pula tingkat kepercayaan masyarakat terhadapnya,” tambah dia.

Mahasiswa Politeknik Tempo saat sesi pemaparan materi public speaking oleh Dheayu Jihan. Senin, 10 November 2025. (Dok. KORSTE/ Darryl Mujiburahman)

Selain membahas public speaking, Jihan juga menyoroti kaitannya dengan dunia jurnalistik. Ia menjelaskan bahwa jurnalisme adalah aktivitas mengumpulkan, mengonfirmasi, dan menyunting informasi untuk kemudian disampaikan kepada publik secara bertanggung jawab. Dalam praktiknya, kemampuan berbicara di depan umum menjadi modal penting bagi jurnalis, terutama dalam situasi lapangan yang dinamis.

Mantan reporter CNN Indonesia tersebut mencontohkan bahwa keterampilan public speaking dibutuhkan dalam beragam kegiatan jurnalistik seperti wawancara langsung, doorstop, live report, interview one-to-one, hingga talkshow. Ia juga menggambarkan tantangan yang kerap dihadapi reporter di lapangan, salah satunya saat suasana liputan yang berdesakan dengan media lain. Jihan mengungkapkan bahwa situasi di lapangan sering kali chaos karena wartawan harus berebut ruang dan waktu untuk mewawancarai narasumber.

Dalam kesempatan itu, Jihan juga menyoroti tantangan besar bagi media di era digital, di mana kemudahan akses informasi memungkinkan siapa pun menjadi pembuat konten. Ia menegaskan pentingnya bagi publik untuk memverifikasi media lewat situs dewan pers sehingga dapat membedakan sumber berita yang kredibel. “Sebagai media, kami berusaha menyampaikan informasi sejelas mungkin, tetapi tidak menutup kemungkinan munculnya ketidakjelasan informasi yang diterima oleh publik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia membagikan pengalamannya ketika harus melakukan breaking news di tengah situasi mendadak. Salah satunya ketika ia tengah bertugas di Bursa Efek Indonesia dan mendapat kabar jatuhnya pesawat di Karawang. Saat itu, ia segera ditugaskan menuju lokasi untuk melakukan liputan langsung. Menurut Jihan, momen semacam itu memerlukan ketenangan, improvisasi, dan kemampuan menyampaikan informasi terbatas dengan tetap menjaga akurasi. Menurut dia, dalam breaking news, wartawan dituntut untuk selalu siap siaga, bahkan harus bisa mengulur durasi siaran sambil menunggu informasi tambahan (feed) dari tim.” katanya.

Suasana Ruang Opini Lt. 7, Gedung Tempo saat kegiatan kuliah umum public speaking. Senin, 10 November 2025. (Dok. KORSTE/ Darryl Mujiburahman)

Dalam konteks jurnalisme audio-visual, Jihan menekankan pentingnya kemampuan presenting. Ia menyebut bahwa setiap orang yang bekerja di bidang audio-visual wajib memiliki dasar public speaking, karena peristiwa dapat terjadi kapan saja. Seorang jurnalis audio-visual, perlu memahami kaidah-kaidah jurnalistik mulai dari perencanaan liputan, pembagian jobdesk (seperti presenter dan juru kamera), penentuan tujuan peliputan, hingga proses pascaproduksi di mana laporan dan foto diserahkan kepada tim redaksi.

Ia juga menjelaskan peran penting setiap anggota tim dalam produksi berita televisi. Reporter atau standupper berperan sebagai pemberi informasi langsung dari lapangan, cameraman memastikan kualitas visual, produser menghubungkan koordinasi antara studio dan lapangan, sementara news anchor menyampaikan informasi kepada pemirsa di studio dengan panduan naskah dari teleprompter. “Segala sesuatu yang ditampilkan di layar sebaiknya sudah disiapkan, direncanakan, dan melalui tahap briefing agar hasil tayangan memiliki kualitas yang baik,” ujarnya.

Lebih teknis lagi, Jihan menjelaskan proses penyusunan konten jurnalistik yang meliputi perolehan data lapangan, hasil wawancara, riset literatur, serta kajian terhadap media lain. Ia juga menekankan bahwa tidak ada salahnya untuk menggunakan pointer bagi reporter sebagai antisipasi terhadap kesalahan penyebutan dalam siaran langsung. Dalam peliputan live report, reporter harus mampu menyampaikan informasi aktual langsung dari lokasi kejadian menggunakan perangkat seperti ponsel, tripod, mikrofon, headset, dan perangkat lunak V-Mix atau Streamyard.

Jihan turut membahas tantangan teknis dalam siaran langsung, seperti stabilitas koneksi internet pada perangkat Live View atau Aviwest. Meski alat tersebut praktis dan portabel, kendala jaringan seringkali muncul ketika liputan dilakukan di area padat seperti demonstrasi, apalagi jika ada signal jammer. Oleh karena itu, penggunaan Mobil SNG (Satellite News Gathering) masih diperlukan sebagai alternatif koneksi yang lebih stabil di situasi darurat.

Ia juga mengingatkan pentingnya koordinasi antar tim. Reporter perlu memastikan waktu siaran (hit time live), melakukan uji koneksi, menyiapkan runtutan playlist berita, dan berkoordinasi dengan juru kamera jika akan berpindah posisi saat siaran. Menurut dia, kerja di lapangan menuntut komunikasi yang efektif agar seluruh tim dapat bekerja selaras.

Selain aspek teknis, pembawa Talkshow Cakap-Cakap ini menekankan pentingnya penampilan (look) bagi reporter televisi. Ia menyarankan agar reporter mengenakan pakaian polos dengan warna solid yang menonjolkan warna kulit, menghindari warna putih dan hitam, tanpa motif, serta tidak memakai aksesoris berlebihan. Penampilan yang rapi dan nyaman membantu menjaga fokus pemirsa terhadap isi berita, bukan terhadap gaya berpakaian. Bagi reporter berambut panjang, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kerapian agar terlihat profesional di layar.

Hafidz Farhan, Mahasiswa Produksi Media Angkatan 2025 (tengah) dan Aisyah Sarah Madyana Fario, Mahasiswi Produksi Media Angkatan 2025 (kanan) saat sesi praktik membawakan berita. Senin, 10 November 2025. (Dok. KORSTE/ Darryl Mujiburahman)

Muhamad Zayyan Gibrano, Mahasiswa Produksi Media Angkatan 2023 (kiri) dan Cintia Carla Ardian, Mahasiswi Produksi Media Angkatan 2023 (kanan) saat sesi praktik membawakan berita. Senin, 10 November 2025. (Dok. KORSTE/ Darryl Mujiburahman)

Di sesi akhir, Jihan membuka sesi tanya jawab seputar presenting dan jurnalistik. dilanjut penyerahan hadiah berupa buku berjudul “Investigasi Energi” bagi mahasiswa yang aktif selama kegiatan. Ia juga memberikan kesempatan untuk dua pasangan mahasiswa mempraktikkan langsung sebagaimana news anchor yang membawakan berita.

Pemberian hadiah kepada Mahasiswa Politeknik Tempo bersama Dheayu Jihan. Senin, 10 November 2025. (Dok. KORSTE/ Darryl Mujiburahman)

Penyerahan Sertifikat oleh Rachma Tri Widuri, S.Sos., M.Si., Wakil Direktur Bidang Non-Akademik Politeknik Tempo kepada Dheayu Jihan. Senin, 10 November 2025. (Dok. KORSTE/ Ghea Amanda Arianto)

Kuliah umum ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa Politeknik Tempo dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang menuntut kemampuan komunikasi efektif dan adaptif. Antusiasme peserta selama kegiatan menunjukkan semangat belajar yang tinggi dan keinginan kuat untuk terus berkembang sebagai calon profesional di bidang media. Dari sesi ini, para mahasiswa tak hanya mendapatkan wawasan teknis tentang public speaking dan jurnalistik, tetapi juga inspirasi tentang bagaimana berpikir cepat, berbicara dengan percaya diri, dan tetap profesional di tengah dinamika industri yang serba cepat. Melalui kegiatan semacam ini, Politeknik Tempo menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang kreatif, mandiri, dan siap kerja.

Oleh Darryl Mujiburahman dan Usman Abu Bakar Zaelany

share it
Facebook
Twitter
LinkedIn
Reddit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *