Menyusuri Ingatan yang Masih Hidup di Jalan Braga

Angin malam Bandung berembus pelan ketika jarum jam menunjuk pukul tujuh. Dari Dago, perjalanan singkat dengan ojek daring berakhir tepat di seberang tulisan merah raksasa bertuliskan Braga, penanda yang seolah menyambut siapa saja yang datang. Langkah pertama menapak di atas paving block Jalan Braga terasa berbeda. Udara sejuk memeluk tubuh, sementara cahaya lampu-lampu bergaya klasik memantulkan warna jingga yang hangat di sepanjang trotoar.
Suara gesekan biola dari seorang pengamen berusia sekitar empat puluh tahun mengalun lembut, berpadu dengan tawa remaja yang tengah berlibur, bunyi sendok yang beradu dengan gelas kopi, hingga percakapan para pedagang yang menawarkan dagangannya. Aroma kopi yang menyeruak dari beberapa kedai di sisi jalan sesekali terbawa angin, membuat langkah terasa semakin lambat.
Braga malam itu hidup. Namun, kehidupan yang tampak di permukaan menyimpan lapisan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar destinasi wisata.
Aku memilih berhenti sejenak di depan Gedung DENIS—kini menjadi kantor Bank BJB—bangunan tua yang berdiri anggun menghadap Jalan Braga. Cahaya remang dari lampu jalan klasik membingkai fasad bangunan berarsitektur kolonial itu. Di hadapannya, kendaraan lalu-lalang tak pernah benar-benar berhenti, sementara wisatawan silih berganti mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka.
Aku berdiri sambil membakar sebatang rokok, menyeruput segelas Kopi Djawa yang baru saja kubeli.
“Syahdu ya,” gumamku dalam hati.
Complicated rasanya.
Angin begitu sejuk, suara kota riuh bersimpangan, namun entah mengapa menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Di sela-sela lamunan itu terdengar suara pelayan dari balik meja.
“Kopinya, Kak?”
Tak jauh dari sana, seorang penjaga toko es krim menyapa ramah setiap pejalan kaki.
“Silakan diambil tester ice cream-nya.”
Percakapan-percakapan sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun justru dari sanalah Braga menunjukkan dirinya: sebuah jalan yang tak pernah benar-benar diam.
Terlahir dari makna dan cerita.
Sebelum menjadi koridor wisata yang dipenuhi kafe, galeri seni, dan deretan wisatawan, Jalan Braga hanyalah jalur sederhana.
Mantan guru sejarah di salah satu SMA di Bandung, Kusni, menjelaskan bahwa pada awal abad ke-19 kawasan ini dikenal sebagai pedatiweg atau jalan pedati. Jalur tersebut digunakan untuk mengangkut hasil bumi, terutama kopi, dari gudang milik Andries de Wilde menuju Jalan Raya Pos.
Perlahan, fungsi jalan itu berubah.
“Karena pada era kolonial, kota ini dirancang sebagai pusat mode, gaya hidup, dan rekreasi bagi kaum elite Eropa. Gaya arsitektur Art Deco yang megah, pusat perbelanjaan di Jalan Braga, dan kesejukan udaranya membuat kota ini menyerupai Paris,” ujarnya.
Julukan Parijs van Java pun lahir bukan semata-mata karena keindahan kotanya, melainkan karena Bandung—terutama Braga—menjadi simbol kemewahan, pusat mode, dan ruang pertemuan masyarakat Eropa pada masanya.
Kusni kemudian menatap deretan bangunan tua yang masih berdiri tegak.
“Sangat terasa sekali perbedaannya dengan zaman ini. Para remaja datang berlibur kemari, para pedagang dengan pundi rupiahnya, coffee shop dengan nuansa kekiniannya, dan banyak lagi.”
Kalimatnya terdengar sederhana, tetapi cukup menggambarkan bagaimana sebuah jalan mampu melintasi zaman tanpa pernah benar-benar berhenti berubah.
Adakah seniman itu?
Perubahan itu tidak hanya terekam pada bangunan.
Ia hidup di dalam ingatan orang-orang yang telah bertahun-tahun menemani Braga.
Di salah satu sudut trotoar, beberapa lukisan bersandar rapi di atas papan kayu. Seorang pria berusia sekitar lima puluh lima tahun duduk menunggu calon pembeli.
Namanya Cokro.
Sudah hampir seperempat abad ia menjual lukisannya di Braga.
“Kalau boleh tahu, Bapak duduk di sini untuk berjualan atau hanya menjaga lukisannya, Pak?” tanyaku.
“Pastinya sekalian menjual lukisan-lukisan saya, Nak. Tapi anak zaman sekarang mana mau sama lukisan-lukisan seperti ini. Sangat sulit rasanya sekarang menemukan anak muda yang suka dan faham dengan lukisan seperti ini.”
Tangannya perlahan membenarkan posisi salah satu lukisan yang mulai miring.
Selama hampir dua puluh lima tahun, ia melihat Braga berganti wajah.
“Dulu banyak orang datang main ke Braga, pulangnya beli lukisan. Tapi sekarang sudah susah. Dalam satu bulan mungkin cuma kejual tiga lukisan.”
Baginya, perubahan adalah sesuatu yang tak bisa dihindari.
Namun ada satu hal yang membuatnya sedih.
“Bandung dan Jogja dulu terkenal keseniannya. Tapi semakin dilahap zaman, julukan itu sudah tidak berlaku lagi sekarang.”
Kalimat itu meluncur pelan, tetapi terasa berat.
Seolah ia bukan hanya sedang kehilangan pembeli, melainkan juga kehilangan sebagian ruang yang dahulu memberi tempat bagi para seniman.
Dipandang namun diacuh.
Tak jauh dari tempat Pak Cokro duduk, aroma pecel hangat menguar dari gerobak sederhana milik Siti.
Perempuan berusia lima puluh empat tahun itu telah lama berdagang di Braga.
Menurutnya, sejak dulu kawasan ini memang menjadi tujuan banyak orang.
“Braga dari dulu memang sering menjadi target kunjungan, Nak. Menurut saya wajar saja kalau sampai sekarang jadi tempat berliburnya anak muda.”
Namun keramaian belum tentu berarti keuntungan.
“Kalau makin laris sih engga. Tapi, pasti ada yang beli setiap harinya. Anak zaman sekarang sukanya ke kafe-kafe bagus, makan di restoran. Jarang yang mau makan pecel,” katanya sambil tersenyum tipis.
Perubahan selera ternyata ikut mengubah nasib para pedagang lama.
Persimpangan ujung braga.
Di sisi lain jalan, alunan biola kembali terdengar.
Seorang pria bernama Amin memainkan lagu-lagu yang akrab di telinga para pengunjung.
Ia mengaku telah memainkan biola di Braga sejak masih muda.
“Dulu saya dan teman-teman sering sekali bermain di sini. Yang awalnya tidak saling kenal menjadi teman akrab. Main bareng, ngobrol, merokok. Ya kayak anak muda saja.”
Kini suasananya berbeda.
“Kalau saya lihat, konsumennya yang sangat sekali berbeda. Wajar saja, umur kamu dengan saya pun berbeda jauh. Selera pun pasti sudah berbeda.”
Tak ada nada kecewa dalam ucapannya.
Yang tersisa hanyalah penerimaan bahwa waktu memang selalu berjalan ke depan.
Selimut hangat usang coraknya.
Malam semakin larut.
Lampu-lampu jalan bergaya Eropa memancarkan cahaya kuning yang hangat. Sesekali warna-warni dari papan reklame modern menyelinap di antara bayang-bayang pepohonan tua. Sepatu para pejalan kaki terus beradu dengan paving block, sementara suara kendaraan sesekali memecah harmoni musik jalanan.
Aku menyusuri Braga hingga mendekati kawasan Paris Van Java Museum.
Semua orang berjalan di jalan yang sama.
Namun tujuan mereka berbeda.
Ada yang berburu foto.
Ada yang menikmati secangkir kopi.
Ada yang mengejar pelanggan.
Ada pula yang sekadar memainkan biola demi beberapa lembar rupiah.
Di tengah keramaian itu, aku justru menemukan satu hal yang tak kasatmata: setiap orang membawa versinya sendiri tentang Braga.
Ibu Kusni mengingatnya sebagai jalur pedati yang menjelma pusat gaya hidup kaum elite.
Pak Cokro mengingat masa ketika orang pulang dari Braga sambil membawa lukisan.
Bu Siti mengingat pembeli yang dulu tak segan berhenti menikmati sepiring pecel.
Pak Amin mengingat Braga sebagai tempat lahirnya persahabatan.
Sementara bagiku, Braga akan selalu kuingat sebagai jalan yang menghadirkan rasa aman saat dilalui sendirian pada malam hari. Jalan yang dipenuhi cahaya lampu hangat, aroma kopi, sapaan ramah para pedagang, serta angin sejuk yang membuat langkah enggan berakhir.
Kala seniman perlahan dilupakan, ketika pekerja bersantap selepas penat, para remaja riang mengabadikan liburan, dan pedagang tua tetap setia menunggu pembeli, saat itulah Braga memperlihatkan wajahnya yang sesungguhnya: sebuah ruang tempat masa lalu dan masa kini saling bersisian tanpa pernah benar-benar saling meninggalkan.
Data analitik CCTV mencatat kawasan Braga–Asia Afrika mampu menampung puluhan ribu pengunjung per hari pada musim liburan. Daya tarik arsitektur Art Deco, kuliner legendaris, ruang-ruang kreatif, hingga pertunjukan seni jalanan menjadikan kawasan ini tetap menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan. Kepolisian pun rutin mengintensifkan patroli dan pengaturan lalu lintas ketika lonjakan pengunjung terjadi. Namun, di balik angka-angka itu, tersimpan cerita yang tak dapat dihitung oleh statistik: cerita tentang ingatan yang terus bertahan di tengah perubahan.
Sebelum meninggalkan Braga, aku kembali menoleh ke arah Gedung DENIS yang masih berdiri tenang di bawah cahaya lampu malam.
Bangunan itu telah menyaksikan pergantian zaman, pergantian penguasa, pergantian generasi, hingga pergantian cara manusia menikmati sebuah kota.
Lalu sebuah pertanyaan sederhana muncul di benakku.
Bagaimana wajah Braga dua atau tiga tahun lagi?
Mungkin jawabannya belum ada hari ini.
Namun satu hal terasa pasti.
Selama masih ada orang yang mengingatnya, Braga tampaknya tak akan pernah benar-benar kehilangan jiwanya.
Usman Abubakar Zaelany




