ADPIKI Gelar Deklarasi dan Pelantikan Pengurus, BRIN Soroti Pergeseran Ilmu Komunikasi

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menghadiri acara Deklarasi Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) yang berlangsung di IPB Convention Hall, Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026).

Bogor, Korste—Asosiasi  Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) menggelar deklarasi, pelantikan pengurus, simposium nasional, sekaligus rapat kerja nasional di IPB Convention Hall, Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026). Acara ini dihadiri ratusan dosen dan peneliti ilmu komunikasi dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria menegaskan bahwa ilmu komunikasi saat ini tengah mengalami pergeseran besar akibat perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan (AI).

Ketua Panitia Dicky Andika mengatakanm persiapan pembentukan ADPIKI telah dimulai sejak Februari 2026 di Kampus UPN Veteran Jakarta. Hingga kini, asosiasi tersebut telah memiliki sekitar 230 anggota, sementara sebanyak 183 peserta hadir langsung dalam kegiatan deklarasi di Bogor.

Dalam pidatonya sebagai keynote speaker, Prof. Arif Satria menyebut perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat secara signifikan. Menurut dia, dominasi media arus utama kini mulai bergeser karena setiap individu memiliki kesempatan membangun opini publik melalui media sosial.

“Dulu dominasi media mainstream sangat kuat. Sekarang semua bisa tampil. Terjadi shifting akibat kecepatan teknologi, AI, dan eksposur karena algoritma,” ujar Arif.

Ia menilai perubahan tersebut memunculkan tantangan baru dalam dunia komunikasi, mulai dari fenomena viral, hoaks, hingga krisis kepercayaan publik. Karena itu, Arif menekankan pentingnya peran ahli komunikasi dalam menciptakan konten yang menjaga etika dan membangun kepercayaan masyarakat di ruang digital.

Selain itu, Arif juga menyoroti fenomena “over communication, under connection” di era digital, ketika intensitas komunikasi meningkat namun kualitas hubungan antarmanusia justru menurun. Menurut dia, tantangan profesi komunikasi saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya karena tidak hanya berfokus pada produksi konten, tetapi juga menjaga kualitas trust di tengah derasnya arus informasi.

Kepala BRIN juga memprediksi sejumlah isu seperti AI Communication, Synthetic Media, hingga Trust Economy akan mendominasi perkembangan ilmu komunikasi di masa depan. Oleh sebab itu, Arif mendorong perguruan tinggi untuk melakukan reformasi kurikulum berbasis riset dan kolaborasi lintas disiplin agar lulusan ilmu komunikasi mampu menjawab kebutuhan era Industri 5.0.

Ketua Umum ADPIKI Dr. Heri Budianto bersama jajaran pengurus dan dewan pakar berharap kehadiran ADPIKI dapat menjadi wadah penguatan riset dan pengembangan ilmu komunikasi di Indonesia. Organisasi tersebut juga diharapkan mampu mendorong lahirnya teori-teori komunikasi baru yang relevan dengan perkembangan teknologi dan dinamika masyarakat digital.

Oleh: Usman Abubakar Zaelany

share it
Facebook
Twitter
LinkedIn
Reddit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *