Politeknik Tempo dan KGSB Gelar Webinar Literasi Media untuk Guru dan Pelajar

Suasana saat Narasumber Richard Kannedy memaparkan materi “Menyiapkan Generasi Emas Tanpa Hoaks” dalam webinar literasi media yang diselenggarakan Politeknik Tempo bersama Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB). Dalam sesi ini, peserta diajak mengenali ciri manipulasi informasi.

Jakarta – Politeknik Tempo bekerja sama dengan Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menggelar webinar literasi media dan cek fakta yang diikuti oleh guru dan pelajar dari berbagai daerah, pada Sabtu, 31 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan membekali pendidik dan generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi informasi di ruang digital.

Webinar dimulai dengan registrasi peserta yang diikuti lebih dari 100 peserta, dilanjutkan dengan pembukaan oleh MC Elshinta T.K. Sambenthiro dari KGSB. Lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Politeknik Tempo, Shalfi Andri, dalam sambutannya memperkenalkan Politeknik Tempo sebagai pendidikan vokasi berbasis industri yang dirancang untuk menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan pengembangan literasi, kemampuan berpikir kritis, dan kualitas sumber daya manusia.

Setelah itu, sambutan pembukaan juga disampaikan oleh Founder Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Ruth Andriani. Ia menyampaikan bahwa webinar ini menjadi agenda perdana KGSB di awal tahun sekaligus menandai kerja sama pertama dengan Politeknik Tempo.
“Bagi kami, kolaborasi ini merupakan kehormatan sekaligus langkah strategis dalam mempertemukan komunitas pendidik dengan institusi vokasi yang memiliki perhatian besar pada literasi, media dan kualitas sumber daya manusia,” ujar Ruth.

Sesi materi utama dipandu oleh moderator Alifah Olivia mahasiswa Politeknik Tempo. Materi pertama bertajuk “Menyiapkan Generasi Emas Tanpa Hoaks” disampaikan oleh Ariadne Khatarina dan Richard Kannedy. Dalam paparannya, mereka membahas pelatihan cek fakta, ciri-ciri hoaks, serta konsep prebunking dan debunking sebagai upaya pencegahan penyebaran informasi palsu sejak dini.

Untuk menjaga interaktivitas webinar, Khatarina mengajak peserta mengikuti permainan edukatif berupa identifikasi unggahan cek fakta dari KORSTE. Peserta diminta membedakan artikel yang termasuk prebunking dan debunking. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya respons yang masuk, dengan sebagian besar peserta berhasil membedakan kedua konsep tersebut.

Materi kedua disampaikan dengan topik “Tools Cek Fakta & AI”. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada tantangan disinformasi berbasis kecerdasan buatan, seperti deepfake dan gambar hasil AI. Tak lupa mereka memberikan contoh langsung dan mengajak peserta menebak konten asli dan hasil manipulasi melalui kuis praktik yang diikuti secara aktif oleh guru dan pelajar.

Pada sesi tanya jawab, Nabil Febrian, siswa dari SMAN 1 Alas Barat, Nusa Tenggara Barat, mengajukan pertanyaan mengenai program paling realistis yang dapat dilakukan sekolah untuk membangun budaya anti-hoaks di kalangan siswa. Menanggapi hal tersebut, Richard dan Khatarina menekankan bahwa langkah paling dasar adalah memperkaya literasi, membiasakan prinsip saring sebelum sharing, serta menciptakan ruang diskusi kritis di lingkungan sekolah.

Menutup rangkaian webinar, moderator Olivia menyampaikan pesan reflektif kepada seluruh peserta. “Kebenaran informasi adalah tanggung jawab kita bersama, terutama dalam mengenali ciri hoaks yang sering kali manipulatif atau terlihat terlalu mustahil untuk dipercaya. Jadilah pengguna informasi yang cerdas dengan selalu melakukan verifikasi sebelum mempercayai ataupun membagikan sebuah berita. Jangan lupa untuk saring, sebelum sharing,” ujarnya.

Webinar kemudian ditutup dengan sesi foto bersama secara virtual dan penutupan oleh MC. Melalui kegiatan ini, Politeknik Tempo dan KGSB berharap dapat terus memperkuat kolaborasi dalam membangun generasi yang kritis, cerdas, dan tangguh menghadapi disinformasi.

Oleh: Oktavia Zeta Anjani

share it
Facebook
Twitter
LinkedIn
Reddit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *