
Bagi banyak orang, bangku kuliah adalah tempat untuk mencari jati diri. Namun, bagi Abdullah Alfa Ruhma, kuliah adalah keputusan strategis untuk mendekatkan diri dengan industri. Memilih Politeknik Tempo bukan sekedar mencari gelar, melainkan mencari lingkungan yang sudah matang dengan kemitraan industri, terutama dengan Tempo Media Group yang sudah ia percayai reputasinya.
Sebelum memantapkan langkah, Alfa sebenarnya memiliki peluang emas di depan mata, yakni kursi di Daren Business School, Amerika Serikat untuk jenjang S2. Namun ia memutuskan untuk menunda jalur tersebut dan memilih bekerja, hingga akhirnya mencoba peruntungan mendaftar beasiswa di Politeknik Tempo dan berhasil lolos. Baginya, tantangan mendapatkan beasiswa tidak dirasakan sebagai beban berat karena ia sudah biasa dengan pola hidup yang menantang. “Gue iseng daftar, eh dapet,” ujar penyuka fotografi ini sembari mengenang momen awal dirinya diterima. Hal pertama yang ia lakukan setelah lolos ialah mengeksplorasi kampus untuk memahami lebih jauh bagaimana institusi berbasis industri ini bekerja.
Masa kuliah Alfa adalah sebuah manifestasi dari kegigihan seorang “Anker” (Anak Kereta). Di saat pandemi COVID-19 melandai, dan perkuliahan beralih ke sistem luring pada semester tiga, Alfa menjalani rutinitas yang mewajibkannya menjadi disiplin sebagai pejuang jalur Green Line. Setiap hari, ia menempuh perjalanan selama 2 jam lamanya dari Rangkasbitung menuju Palmerah menggunakan KRL, di mana Stasiun Palmerah menjadi gerbang utamanya menuju kampus. Betapa padatnya jadwal alfa tercermin dari bagaimana ia membagi waktu. Setelah materi perkuliahan di Politeknik Tempo dari pagi sampai sore, ia bergegas menuju kedai kopi tempatnya bekerja paruh waktu hingga malam hari demi membiayai kebutuhan hidupnya. Disela-sela kesibukan yang menguras energi tersebut, ia masih harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah lainnya karena ia juga tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Terbuka (UT). Tak berhenti disitu, ia juga mengambil proyek freelance agar tetap mandiri secara finansial.

Bagaimana ia bisa bertahan dalam tekanan seberat itu? Manajemen prioritas adalah kuncinya. Alfa dengan tegas memilah kewajiban yang harus didahulukan, bahkan jika ada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau organisasi yang berbenturan dengan jadwal kerja yang krusial, ia tidak ragu mendahulukan tanggungjawab profesionalnya. Tantangan sebagai mahasiswa perantau baginya berpusat pada kemandirian finansial, di mana ia harus mampu mengatur pendapatan dari paruh waktunya untuk memenuhi kebutuhan pokok sandang, pangan, dan papan. Kemandirian ini menempanya menjadi pribadi yang sagat disiplin dalam mengelola keuangan di tengah kerasnya hidup di ibu kota.
Kini, Alfa telah menyelesaikan studinya. Alfa tidak hanya membawa pulang lembar ijazah. Hal paling berharga yang ia incar sejak hari pertama adalah koneksi. ia sangat sadar bahwa di dunia profesional, jaringan adalah aset jangka panjang yang tak ternilai untuk karirnya kedepan. Politeknik tempo telah memberinya akses ke dunia industri yang ia dambakan, dengan bekal kedisiplinan, pengalaman kerja, dan jaringan yang ia rintis selama masa studi, Abdullah Alfa Ruhma siap melangkah sebagai profesional di dunia industri.
LAYLA EVA KALYANA
